Tiba-tiba, seekor badak putih menarik saya dari dalam angkot. “Kamu dari koranjokowi.com, ya?” Ujarnya berat. Tanpa sempat saya menjawab, mereka langsung membawa saya ke halaman Pemkot. Dan… wow! Ribuan Badak Putih dari klan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sudah penuh sesak memenuhi area di sana. Saya pun dikawal beberapa badak senior untuk masuk ke dalam. Di sana, sudah menunggu seekor badak besar berukuran tinggi sekitar 2 meter dengan berat mendekati 1 ton.
“Halo, sudah lama saya ingin bertemu Saudara selaku penggagas Republik Fabeliano. Kami sebagai hewan purba merasa bersyukur dapat dilibatkan dalam kehidupan manusia saat ini, khususnya dalam mendukung kampanye antikorupsi. Oh ya, nama saya AKI BADAK. Usia saya hampir 200 tahun,” sapanya ramah.
Kemudian, saya diajak bergabung dengan 30 koordinator wilayah (Korwil) badak se-Kota Bandung yang sedang bersiap mengikuti apel.
“Kota Bandung memiliki 30 kecamatan. Nah, mereka ini adalah para korwilnya. Setiap kecamatan diwakili oleh 2 ekor badak yang mempunyai anggota minimal 10.000 badak per kecamatan. Saudara diam dekat saya saja, acara mau dimulai. Jika mau ambil dokumentasi, silakan,” bisik Aki Badak. Saya hanya bisa mengangguk.
REUNI BADAK PURBA
AKI BADAK pun naik ke atas podium dan mulai berpidato dengan suara menggelegar, “Saudara Badak sekalian yang terhormat, alhamdulillah kita bisa berkumpul di sini. Selain dari Kota Bandung, hadir pula beberapa tamu istimewa dari setiap provinsi, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Namibia, Zimbabwe, Kenya, Rwanda, Uganda, hingga Tanzania. Ada pula perwakilan dari penangkaran Taman Safari. Kita semua adalah klan leluhur, baik badak jawa (Rhinoceros sondaicus) maupun badak putih (Ceratotherium simum). Hari ini kita berkumpul di sini hanya dengan satu tujuan: silaturahmi dan #JagaKotaBandung Dari Ninja!” Hadirin badak pun bertepuk tangan riuh, menggetarkan tanah Balai Kota.

AKI BADAK melanjutkan pidatonya sambil berjalan berkeliling podium, “Ratusan ribu tahun lalu, wilayah ini bukanlah kota semrawut. Ini adalah DANAU BANDUNG PURBA—airnya jernih membentang luas sejauh mata memandang, dikelilingi hutan lebat yang kini menjadi daratan subur. Ketika air surut perlahan, wilayah ini meninggalkan rawa-rawa subur dan tanah berkapur putih. Di sanalah para leluhur kita hidup damai tanpa terganggu oleh ketamakan manusia.”
“Leluhur kita dahulu kala juga melindungi satwa purba lainnya. Menjaga gorong-gorong agar tidak banjir, termasuk menjaga agar tatanan lingkungan tetap tertib, tidak seperti saat ini. Lihat saja sejak keluar dari gerbang Tol Pasteur, pemandangan demikian kumuh! Selain oleh juntaian kabel-kabel tak beradab, Pemkot seolah gemar membiarkan masalah sosial berkeliaran di sana tanpa solusi konkret,” tegasnya.
“Kolega saya yang dari luar negeri kerap mencemooh. Malu rasanya saya sebagai pribumi purba. Mana yang disebut Paris Van Java? Mana yang disebut Flower City? Yang dipelihara agar indah itu harusnya tumbuhan hijau, bukannya juntaian kabel fiber optik milik puluhan operator penyedia jasa internet (ISP) dan TV kabel!” Pekik AKI BADAK geram.
Ia kemudian menghampiri seorang koleganya yang datang dari benua Afrika dan menyodorkan mikrofon.
“Welkom, Ambassadeur van Afrika. Ek wil graag vra: word veseloptiese kabels in u land boggronds gespan of ondergronds begrawe? (Selamat datang Dubes Afrika, saya mau tanya, kabel fiber optik di negara Saudara digantung atau disembunyikan di dalam tanah?)” Tanya AKI BADAK dengan logat Afrikaans yang fasih.
Sang Dubes Afrika, batuk kecil dan menjawab , “Ons het selfs die kwessie van chaotiese oorhoofse bedrading aangepak – om alle lugkabels ondergronds te skuif deur middel van ‘n kanaalstelsel is nie ‘n moeilike taak nie; dit hang alles af van die wil om dit te doen. Wat die koste betref, kan dit deur die streeksbegroting gedek word; openbare belastinginkomste is voldoende om dit te financier. Dieselfde geld vir die kwessie van rondlopers en bedelaars – dit is ‘n kwessie van wilskrag. Hehehe.”
MENATA KOTA BANDUNG TERGANTUNG NIAT
Aki Badak langsung menerjemahkan, “Nah! Masalah kabel semrawut, sebelum Kota Bandung ada pun, di sana telah ditangani! Memindahkan seluruh kabel udara ke dalam tanah melalui sistem saluran bawah tanah (ducting system) bukan pekerjaan sulit, semua hanya tergantung pada NIAT! Soal biaya, itu bisa diatur lewat APBD, pajak dari rakyat sudah lebih dari cukup untuk mendukung itu. Termasuk tentang penataan gelandangan dan pengemis, itu murni urusan kemauan alias niat. Ehehehe.”

“Nah, hadirin sekalian telah mendengarkan bahwa semua itu kembali lagi kepada niat para penguasa. Termasuk di Kota Bandung maupun di kota dan kabupaten tempat kalian berada. Anehnya, boro-boro memikirkan keindahan dan ketertiban kota, dalam dua dekade terakhir justru tercatat ada 20 kepala daerah di Provinsi Jawa Barat yang diciduk aparat hukum akibat korupsi. Jadi, usai Pilpres, Pileg, atau Pilkada, fokus mereka tampaknya berubah: bagaimana cara cepat mengembalikan modal kampanye! Akibatnya, APBD digerogoti. Bahkan saat ini, tanah pasundan sedang diguncang skandal mega korupsi salah satu bank daerah dengan potensi kerugian negara yang fantastis, mencapai lebih dari Rp223 miliar! Silakan Anda semua googling untuk validitas angkanya,” kata AKI BADAK menutup pidatonya sambil berjalan lambat lalu berkubang sebentar di lumpur becek samping taman.
“Ehehehe, dasar Badak!”
Be the first to comment