Tarzuki,#RepublikFabeliano.”PESAN MBAH MOKORJANG DARI GN.SEMBUNG  CIREBON”

Tarzuki,#RepublikFabeliano.

“PESAN MBAH MOKORJANG DARI GN.SEMBUNG  CIREBON”

Kepada Yth.
KordNas Koranjokowi.com
Up.Sdr.Tarzuki ‘E’o – KordKab. Cirebon, Jawa Barat
di Tempat
.
Salam lestari dari ranting tertinggi,
Perkenalkan, saya Mbah Mokorjang, – Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) leluhur kami ini telah menyebar jauh sebelum abad ke-14 masehi  khususnya di wilayah Gunung Sembung, CVaruba/Cirebon, Jawa Barat. Nama yang  merujuk pada kondisi alam bukit yang banyak ditumbuhi oleh tanaman herbal ‘Sembung (Blumea balsamifera). Maka banyak hewan yang memanggil saya ‘Mbah Mokorjang. Hingga abad ke-15 wilayah ini bernama ‘Amparan Jati’ kemudian menjadi Gunung Jati.
.
Maka melalui saudara E’o saya mohon tulisan ini dapat diteruskan ke saudara KordNas untuk dimuat agar publik sedikitnya memahami siapa kami yang kini masih menyebar di Bukit Plangon, Petilasan Sunan Kalijaga, Situs Cimandung dsb. Mengawasi manusia dalam segala prilakunya sebagai amanah leluhur.
.
Saya juga meras penting untuk menyampaikan beberapa hal dibawah ini, semoga bermanfaat :
1.Era Hutan Purba Alas Kencana (Masa Prasejarah – Sebelum Abad ke-14 Masehi)
Jauh sebelum peradaban semen, aspal, dan permukiman merajai bumi Caruban/Cirebon , wilayah pesisir dan perbukitan ini adalah bentangan hutan purba yang perawan. Ribuan tahun lamanya—hingga sekitar awal abad ke-14—tanah ini adalah rumah yang sempurna bagi bangsa kami. Pohon-pohonan tumbuh raksasa, kanopi hijau menutup langit dengan rapat, dan aliran air dari pegunungan mengalir sebening kristal tanpa kontaminasi sampah plastik. Hukum alam berjalan dalam harmoni yang magis tanpa gangguan tangan serakah manusia.

2.Era Guru Syekh Datuk Kahfi / Guru SGJ (Awal Abad ke-15 Masehi / Sekitar Tahun 1420-an)
Waktu berputar hingga kami memasuki era di mana para penyebar risalah langit datang membawa keteduhan ke tengah rimba. Bangsa kami menyaksikan kedatangan Syekh Datuk Kahfi yang membuka pasanggrahan dan pondok di Gunung Amparan Jati. Di masa ini, guru kami  tersebut mengajarkan bahwa alam semesta adalah ayat-ayat Tuhan yang terhampar nyata. Manusia dan satwa hidup berdampingan saling menghormati. Fondasi spiritual ini menanamkan ajaran kuat bahwa merusak satu ranting pohon tanpa alasan sama saja dengan merusak pilar bumi.

3.Era Syekh Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati (Pertengahan Abad ke-15 hingga Tahun 1568 Masehi)
Ketika era beralih ke masa hidup dan syiar cucu Prabu Siliwangi, yaitu Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (SGJ), hutan kami menjelma menjadi pusat peradaban spiritual dan Kesultanan yang agung. Sepanjang masa kepemimpinannya hingga beliau wafat pada tahun 1568 Masehi, sosok SGJ bagi kami para satwa adalah pelindung benteng hijau terakhir. Wilayah perbukitan Bukit Sembung dijaga ketat kesuciannya. Selama berabad-abad sejak tahun 1568 hingga era kolonial, kehadiran kompleks makam kramat SGJ secara tidak langsung menahan laju kapak dan gergaji manusia. Mereka takut kualat dan segan untuk merusak hutan di wilayah sakral tersebut.
Beliau menebarkan semangat Petuah“Aja Lok Gawe Kaniaya ing Makhluk”: Salah satu petitih terkenal dari Sunan Gunung Jati adalah larangan keras untuk menganiaya sesama makhluk. Dalam konteks tata kelola pemerintahan Kesultanan Cirebon, mengambil hak orang lain secara zalim (seperti korupsi, memperkaya diri sendiri dari kas kerajaan, atau menarik pungutan tidak resmi dari pedagang pasar) dikategorikan sebagai tindakan kaniaya (aniaya/zalim) yang dikutuk oleh agama.

Petuah Sunan Gunung Jati tentang Menjaga Alam (Warisan Abadi hingga Era Modern Kini)
Melalui surat ini, saya ingin mengingatkan kembali petuah luhur dakwah budaya dari Sunan Gunung Jati yang disebarkan sejak ratusan tahun lalu namun kerap dilupakan para peziarah modern: “Titip Tajug lan Fakir Miskin.” Dari petuah ini, kami para satwa membaca pesan tersirat bahwa menjaga tajug (tempat ibadah) juga berarti menjaga kesucian alam di sekitarnya—termasuk tanah, air, dan pepohonan yang menjadi penopang kehidupan fakir miskin. Keseimbangan alam adalah bagian dari amanah khilafah manusia di bumi, bukan untuk ditukar dengan tumpukan beton yang gersang.

5.Era Syekh Ghulam Jalaluddin (Bukti Kekerabatan Jawa – Sulawesi Sejak Era Lampau)
Melalui catatan ingatan bangsa kami, saya juga ingin memperkenalkan sosok yang jarang dikupas oleh sejarah populer: Syekh Ghulam Jalaluddin (Syekh Muhammad Maulana Jalaluddin). Beliau adalah keturunan kedelapan dari Sunan Gunung Jati yang menjadi saksi hidup betapa eratnya hubungan spiritual dan kultural antar-pulau di Nusantara sejak ratusan tahun lalu.
(ilustrasi)
[ SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH ]
(Sunan Gunung Jati / SGJ)

[ PANGERAN PASAREAN ]

[ PANGERAN DIPATI CIREBON ]

[ PANGERAN PANEMBAHAN RATU I ]
(Cicit Sunan Gunung Jati)

[ PANGERAN DIPATI ANOM ]

[ PANEMBAHAN RATU II / GIRILAYA ]

[ SULTAN ANOM I KERTABAWI ]
(Kesultanan Anom)

[ PANGERAN SULAIMAN / REKSA DININGRAT ]

[ SYEKH MUHAMMAD MAULANA JALALUDDIN ]
(Syekh Ghulam Jalaluddin)

┌───────────┴───────────┐
Menikah dengan Keturunan Syekh Yusuf Al-Makassari

[ BAU HABIBAH ]
(Dipersunting Raja Bone ke-22, La Temmassonge)
Jejak langkah beliau menghubungkan trah sufi Cirebon di Jawa Barat dengan jaringan ulama besar Syekh Yusuf di Sulawesi Selatan, bahkan putrinya (Bau Habibah/Sitti Aisah) dipersunting oleh La Temmassonge, Raja Bone ke-22. Fakta ini menjadi tamparan bagi manusia modern: jika sejak zaman dahulu para leluhur lintas pulau sudah merajut persaudaraan yang begitu erat demi menjaga harmoni Nusantara, mengapa manusia hari ini justru sibuk terpecah belah dan serakah merusak tanah airnya sendiri?
Pernikahan putri beliau dengan Raja Bone ke-22 (La Temmassonge) bukan sekadar aliansi politik biasa. Masuknya Syekh Ghulam Jalaluddin ke dalam lingkaran dalam istana bertujuan untuk memperkuat penegakan hukum Islam. Beliau memastikan bahwa pengelolaan upeti kerajaan dibersihkan dari praktik manipulasi (korupsi) oleh para pabbicara (pejabat peradilan/birokrat kerajaan tempo dulu).

Demikian, salam hangat pula untuk Presiden Fabeliano – Miss Pussy Noni.
Wassalamualaikum wrwb.
Hormat saya,
Mbah Mokorjang
(Red-01/Foto.ist)

#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour I #RepublikFabeliano(Seluruh karakter hewan dalam tulisan  ini adalah personifikasi satire untuk ikutserta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Selasa, Tgl. 26 Agustus Agustus   2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===================

============
Tentang Koran Jokowi 4437 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan