#Gibranism , “ADA APA DENGAN DEMOKRAT DAN KABAKOM RI?”


BAGIAN PERTAMA: Bayangan yang Dituduh Menyerang
Pada 19 Oktober 2026, disaat publik sedang fokus mengkritisi kelambatan pemerintah menangani Karhutla 2026 >202.000 hektar yang telah berjalan lebih dari 150 hari. Dibuat gaduh dengan munculnya surat terbuka dari Forum Guru Besar Indonesia yang ditandatangati oleh sekitar 150 profesor. Kata mereka, Surat ini merupakan respons atau tindak lanjut dari isi pertimbangan Putusan MK (perkara nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang dibacakan pada 6 Oktober 2026), pertimbangan ya bukan putusan hukum.
Kata mereka, “Bagaimana mungkin kami dapat terus menanamkan nilai-nilai integritas akademik, kerja keras, dan kepatuhan hukum, jika posisi Wakil Presiden diraih melalui proses yang cacat secara administratif?”

“Nanti buzzer-buzzer geng Oslo kompak bilang guru besar ini dibiayai Demokrat!”
BAGIAN KEDUA: Kartu Kuning, Oksigen, dan Takdir Baskom
“Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita.” , entah apa alasannya tiba tiba Kabakom membuat pernyataan ini Tgl.10 Oktober 2026, di Lemhannas, Jakarta saat Kalimantan dan Sumatera terbakar
Beliau bahkan menyebut kebakaran hutan sebagai “fenomena alam di luar kesalahan manusia” — padahal Polri saat itu sudah menangkap 72 orang pembakar hutan. Ucapan itu viral hingga ke Malaysia, melukai diplomasi, hingga Menteri Senior Singapura – K. Shanmugam terpaksa menegur terbuka: Ucapan tersebut seketika viral hingga ke Malaysia dan Singapura, memicu reaksi diplomatik yang keras. Menteri Senior Singapura, K. Shanmugam, secara terbuka membalas sindiran tersebut dengan menegaskan bahwa kiriman asap tersebut nyata-nyata terjadi akibat adanya pelanggaran hukum dan kelalaian manusia di Indonesia. Ia menambahkan bahwa Singapura tidak membutuhkan klaim “kiriman oksigen” jika kompensasinya adalah kabut asap tahunan, karena pada kenyataannya, pihak yang paling menderita dan dirugikan akibat kepulan asap tersebut adalah rakyat Indonesia sendiri.



Nona menghirup teh hijau yang terakhirnya, dari dua hal ini diatas, wajar jika memunculkan pertanyaan diruang publik. “ADA APA DENGAN DEMOKRAT & KABAKOM RI?”. Nona tersenyum sambil melipat suratkabar dan menuju meja kerja. “Untung kejadian ini bukan di Republik Fabeliano”, bisiknya lirih.
‘Ikan hiu muter muter, see you later!
(Red-01/Foto.ist)
- Feri Manurung, #RepublikFabeliano, “Rp10 TRILIUN UNTUK DANAU SIOMBAK, MEDAN MARELAN, SUMUT !?”
- #RepublikFbeliano, ” MARI SERBU SOLO! “
- #RepublikFabeliano, “PESAN BURUNG HANTU KALIMANTAN UNTUK IRFAN HAKIM”
- Budi D.Ginting, #RepublikFabeliano, “SUMUT NOL KARHUTLA, DAPAT BONUS RP.70 MILIAR !”
- #RepublikFabeliano, “NAMAKU ROCKY !”
- Nasution Bersaudara, #RepublikFabeliano, “SOAL PETI, PRESIDEN DIHADANG GEN Z KAB. MADINA !?”
- #RepublikFabeliano, ” 3 TRILIUN LEBIH SERANGGA MATI SIA SIA AKIBAT KARHUTLA, SENGAJA?”
- #RepublikFabeliano, “MANFAAT TRUK KOPDES UNTUK KARHUTLA?”
- #RepublikFabeliano, “DICARI ORANGUTAN KARHUTLA 2026”

Be the first to comment