#RepublikFabeliano,
” KARHUTLA, HEWAN KALIMANTAN JADI KORBAN LAGI!”
Oleh:
TARZAN SUNDA
[Konsultan Republik Fabeliano Bidang Tata Kota & Hutan Mangkrak]
Tembusan:
✅ Presiden Republik Fabeliano, Miss Pussy Noni (Kucing peranakan Persia – Sunda)
✅ Jubir Khusus Investigasi: Mr. Prairie (Anjing Padang Rumput asal Texas, naturalisasi)
✅ Menteri Kehutanan: Bro Lubud (Lutung Bedung, Mandailing Natal Sumut)
✅ Menteri Anti Mafia Hutan, Udara & Laut: Mat Koneng (Rajawali Gunung Merapi, DIY)

DATA FAKTA YANG TERCATAT
Ibu Presiden, rekan rekan kabinat Republik Fabelism Journalism (Fabjour)
Selama sepuluh tahun 2014–2024, api melalap hutan Kalimantan seluas 3,7 Juta hektar. Tahun 2024 sempat menurun ke angka 15.575 hektar, namun kembali melonjak tajam di thn.2025 – 26.703 hektar, semakin meningkat lagi hingga tgl. 22 Agutus 2026 lalu menjadi 38.310 hektar atau bertambah >11.000 hektar luas Karhutlanya dibanding tahun 2024-2025 lalu.
Wilayah paling parah berada di Kalimantan Barat:
1. Kab.Ketapang: 12.443 hektar
2. Kab.Kubu Raya: 8.614 hektar
3. Kab.Mempawah: 6.144 hektar
Kerugian negara yang bisa dihitung mendekati Rp1,9 triliun hanya untuk periode delapan bulan ini. Belum termasuk hilangnya serapan air, karbon, sumber pangan, dan rumah ribuan makhluk hidup.
TEMUAN: KELENGAHAN DUA KEMENTERIAN MANUSIA
Ibu Presiden, rekan rekan kabinat Republik Fabelism Journalism (Fabjour) , Kami melihat api kembali menjalar bukan karena tak ada aturan, melainkan kelalaian nyata dari Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup di negara manusia yaitu Republik Indonesia. Kami menilai beberapa hal, yaitu;
Pemisahan lembaga tak dibarengi sinergi: Saling lempar tanggung jawab saat api mulai menyala. Pengawasan konsesi lemah: Sebagian besar titik panas berada di lahan izin usaha, namun sanksi tegas lambat jatuh bahkan yang ada hilang ditelan bumi.

Pemulihan gambut belum tuntas: Air tanah dibiarkan turun, membuat tanah gambut menjadi bahan bakar siap saji. Pencegahan kalah dengan kecepatan api: Patroli, sumur bor, dan kesiapan warga belum menjadi prioritas utama sebelum musim kemarau tiba
SOLUSI YANG KAMI AJUKAN
Atas nama seluruh penghuni hutan, kami usulkan langkah nyata:
♥ Satukan kembali pengawasan hutan & lingkungan dalam satu komando operasional saat penanganan kebakaran ♥ Kaji ulang seluruh izin usaha di kawasan gambut yang terbakar berulang kali — cabut jika tak mampu menjaga kelestarian ♥ Wajibkan tinggi muka air gambut dijaga di atas batas aman sepanjang tahun, bukan hanya saat api sudah menyala ♥ Bentuk Pasukan Gotong Royong Gabungan: Pemerintah, perusahaan, dan warga desa setempat — yang paling tahu medan — duduk sejajar mengatur pencegahan ♥ Setiap rupiah kerugian negara wajib dituntut ganti rugi kepada pihak yang izinnya terbukti melanggar

POTENSI KORUPSI YANG WAJIB DIWASPADAI
Di balik kepulan asap dan reruntuhan hutan, ada bahaya tersembunyi yang tak kalah mengerikan: potensi penyalahgunaan uang rakyat.
1. Dana Pemadaman & Rehabilitasi: Anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan berisiko diselewengkan — mulai dari harga alat yang dibumbui, sumur bor yang hanya ada di kertas, hingga bibit pohon yang tak pernah ditanam.
2. Izin Usaha Bermasalah: Banyak lahan terbakar ternyata milik pihak yang seharusnya sudah dicabut izinnya, namun tetap beroperasi karena “jalur khusus”.

3. Dana Ganti Rugi: Uang kompensasi kerugian warga sering kali tak sampai utuh ke tangan yang berhak, terpotong di tengah jalan.
4. Proyek Pemulihan Gambut: Menjadi lahan basah bagi kerjasama yang tak transparan, tanpa pengawasan warga setempat.
Itulah sebabnya, kami mengusulkan KPK – Komisi Pemberantasan Korupsi kalau perlu memasang ribuan CCTV disana , karena kami tahu: di balik api yang melalap hutan, seringkali ada api keserakahan yang ‘membakar uang negara’.

PENUTUP
Ibu Presiden, rekan rekan kabinat Republik Fabelism Journalism (Fabjour).
Api tak kenal jabatan, tak kenal sekat kementerian. Ia hanya membakar tanah yang dibiarkan kering dan tak dijaga.Maka Kami mengingatkan: Kehutanan bukan sekadar soal angka kayu atau luas lahan, tapi soal rumah kami semua. Jika dua lembaga itu kembali lengah, maka bukan hanya hutan yang hilang — masa depan generasi hewan pun ikut hangus terbakar.

Burung mungkin masih punya sayap, bisa terbang meninggalkan Kalimantan, entah mencari tempat teduh di negara tetangga atau kabupaten lain yang masih rimbun. Tapi bagaimana dengan serangga kecil yang tak mampu terbang jauh? Bagaimana dengan hewan darat yang terpojok api? Bagaimana ikan dan penghuni air yang mati perlahan karena air keruh dan panas? , Bagaimana dengan para hewan lansia dan jompo? Merekalah pengganti kayau terbakar. Tak bisa lari, tak bisa bicara, tak bisa mengadu.

Yang paling menyayat hati, pernyataan pejabat pusat maupun daerah semakin membuat gaduh atas hal ini. Bahkan dengan enteng menyalahkan angin, menyalahkan kemarau, seolah api datang tanpa sebab manusia. Maka jangan heran jika di tengah kepungan api, di balik asap yang menyembunyikan langit, jika hewan-hewan itu berdoa kepada Tuhan,
“Ya Tuhan, mengapa bukan kawasan tambang saja yang terbakar ?, Mengapa bukan mereka yang KAU musnahkan!?,Mengapa selalu kami yang menjadi korban !?”

Api tak memilih siapa yang dibakar. Tapi manusia yang memilih siapa yang dilindungi dan siapa yang dibiarkan hangus. Dan ingatan pahit ini pernah kita alami Selama penanggulangan bencana tsunami 2004 dan rangkaian bencana tsunami setelahnya di Indonesia,karena dalam musibah itu masih kita temukan lebih dari 27 indikasi kasus korupsi oleh BRR termasuk pemotongan jatah hidup pengungsi di Aceh senilai Rp512,9 juta serta korupsi bantuan kapal nelayan pasca-tsunami Jawa Tengah yang merugikan negara sebesar Rp7,299 miliar. Dan itulah manusia, bukan kami!
.
Ibu Presiden, rekan rekan kabinat Republik Fabelism Journalism (Fabjour).
Semoga semua ini tidak terjadi dinegara kita, Republik Fabeliano.
Demikian laporan ini kami sampaikan dengan jujur dan terbuka.
Ikan hiu muter muter, see you later!

Borneo, Tgl.24 Agustus 2026.
Hormat kami,
TARZAN SUNDA
#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour I #RepublikFabeliano
(Seluruh karakter hewan dalam tulisan ini adalah personifikasi satire untuk ikutserta mengkampanyekan antikorupsi)







“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”


CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Minggu, Tgl.24 Agustus 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!



https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===================
- #Republik Fabeliano. “HAK PRODEO UNTUK SIAPA?
- #RepublikFabeliano,”BRO MAC MACAN DAHAN IKN & PROKONTRA KORIDOR HEWAN”
- Marwedi,Jeck,Nerko. #RepublikFabeliano. “MENTERI MAT KONENG & KORUPSI 1,5 MILIAR KAB.BOGOR”
- Budi D.Ginting. #RepublikFabeliano.”Pesan Panglima Kraken & HUT RI ke-81 di Desa Sampali,Sumut”
- #SahabatKPK!, “MEREKA DIBURU PEMBENCINYA !?”
- #RepublikFabeliano, “HAI MANUSIA,TIRULAH BUTKUS ANJING ROCKY THN.1970 – 1981”
- #SahabatKPK!, “SILAHKAN MENAMBANG EMAS LIAR DI KAB.MADINA”
- Vien,J.Siregar.#SahabatKPK!, “AYAM SIMALUNGUN MINTA KPK TURUN GUNUNG !?”
- Arie Kurniawan, #SahabatKPK!, “BABI SEDINGEN REJANG LEBONG & NEKARA DIGITAL SATIRE”
- #SahabatKPK!, “BOLELEBO.KAMI ADA UNTUK NTT!”
Be the first to comment