#RepublikFabeliano. “SOLUSI BABAH GONGGONG UNTUK PEMKOT BATAM?”

#RepublikFabeliano
“SOLUSI BABAH GONGGONG UNTUK PEMKOT BATAM?”
.
Aku Babah Gonggong. Siput purba yang sudah menghuni perairan Batam sejak jutaan tahun lalu, jauh sebelum kaki manusia pertama menjejakkan jejaknya di pulau ini. Banyak manusia bertanya dengan nada heran, “Kenapa namamu Gonggong? Kamu siput, bukan anjing!”
Biar kujelaskan wahai mahluk berkaki dua: saat cangkang kami dikupas, daging kami mengeluarkan bunyi “gong… gong…” bagai ketukan gendang kecil yang magis. Kami dinamai karena suara merdu kami, bukan karena gonggongan hewan berbulu itu. Dan aku telah mendengar gema suara itu berulang kali selama ratusan generasi, sejak pulau ini masih berupa hutan perawan hingga kini disesaki beton. 
SEJARAH BATAM DARI MATA YANG TAK PERNAH BERPIJAK DI DARAT
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat kapal pedagang Tionghoa pertama kali berlabuh di Sei Panas pada tahun 1817. Kala itu, leluhur kami dengan sukarela membantu mereka, baik sebagai bahan pangan penyambung hidup maupun ramuan obat.
Sungai Baloi saat itu mengalir jernih tanpa noda. Lebarnya mencapai 25 meter dengan air yang begitu bening, hingga dasar sungai pun terlihat kasat mata. Di sanalah kerabat kami, ribuan kepiting air tawar khas Batam—Parathelphusa batamensis, spesies langka yang tak ada di belahan bumi lain—hidup sejahtera. Aku juga melihat Buaya Muara purba berjaga di celah bakau, Kukang Melayu yang terlelap tenang di dahan malam, dan Kancil yang melompat lincah di semak-semak. Semua mahluk punya rumah. Kami berbagi pulau ini dalam kedamaian yang utuh.
.
LALU APA YANG TERJADI PADA DAS BALOI?
Kedamaian itu runtuh. Atas nama pembangunan kota, rumah-rumah kami diporak-porandakan tanpa ampun. Tragedi paling menyayat hati terjadi di Sungai Baloi, yang belakangan kalian sebut dengan istilah birokrasi yang kaku: Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Baloi di kawasan Permata Baloi dan Kezia Residence, Lubuk Baja, Batam.
Rumah-rumah kami ditimbun paksa dengan tanah, batu, puing bangunan, hingga sampah-sampah logistik yang berbau tengik. Kami mencoba bertahan di dalam kegelapan, meratapi nasib di bawah impitan tanah urukan. Sungai legendaris itu diperkosa; dari lebar 25 meter menyusut drastis menjadi sisa 5 meter saja! Air kehilangan jalurnya. Maka jangan salahkan alam, jika setiap kali hujan turun, air mengamuk dan meluap membanjiri permukiman manusia.
.
Skandal penimbunan ini menyeret nama oknum anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, initial ‘LK’ yang  akhirnya mengaku telah memerintahkan pengerjaan tersebut dan berjanji akan melakukan normalisasi setelah disidak oleh Pemko Batam dan BP Batam. Namun, ya Tuhan… mereka sama sekali tidak memikirkan kami. Entah berapa ribu nyawa kerabat kami yang tewas sia-sia, terkubur hidup-hidup di dasar sungai.
.
Warga protes keras. Kasus ini menggelinding panas hingga ke Polda Kepri. Namun, sebuah ironi hukum terjadi: keluar Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dengan dalih, “Sudah ada pemulihan, sudah dibangun taman, kasus selesai!”
Maka, perkenankan Babah Gonggong ini bertanya dengan logika sederhana:
“Jika rumahmu dibakar habis oleh seseorang, lalu pelaku itu berkata, ‘Sudah kubangun taman yang indah di atas abu rumahmu, jadi kita impas ya,‘ apakah itu yang kalian sebut pemulihan? Apakah sungai yang dikubur hidup-hidup bisa bernapas lagi di bawah lapisan beton dan rumput hijau?” 
Mengapa sungai itu tidak dikeruk kembali? Mengapa alur air yang asli tidak dikembalikan? Jawabannya klasik: karena mengeruk itu butuh biaya besar. Sedangkan menimbun lalu menanam rumput di atasnya jauh lebih murah, instan, dan bisa segera dipamerkan sebagai kosmetik “proyek selesai.” 
.
HITUNGAN ANGKA — YANG TAK PERNAH DIHITUNG PEMKOT
Mari kita hitung dengan jujur menggunakan matematika alam, bukan angka proyek yang penuh manipulasi:
Luas Sungai Baloi yang Ditimbun:
Panjang penimbunan ±500 meter, lebar asli sungai 25 meter menyempit menjadi 5 meter (artinya 20 meter badan sungai diuruk).
Luas yang ditimbun: 500 m × 20 m = 10.000 m² (±1,0 Hektar badan sungai hilang dari peta).

Volume Tanah dan Puing yang Digunakan:
Dengan kedalaman urugan rata-rata 2,5 meter, maka:
Volume material: 10.000 m² × 2,5 m = 25.000 Meter Kubik (m³).
Angka itu setara dengan 1.667 armada truk tanah—jika satu truk berkapasitas 15 m³.

Nilai Ekonomis Material yang Dikubur:
Biaya tanah urugan, pengangkutan, hingga pemadatan berkisar Rp 250.000/m³.
Total nilai material yang ditimbun seenaknya: 25.000 m³ × Rp 250.000 = ±Rp 6,25 MILIAR! Dan ingat, aset itu milik ruang publik kota, bukan milik pribadi mereka!

Kerugian Jangka Panjang yang Sengaja Diabaikan:
    • Bencana banjir berulang yang merugikan warga sekitar ±Rp 1–2 Miliar per tahun.

    • Ekosistem sungai mati total: hilangnya ruang tangkapan air dan punahnya habitat satwa purba Batam.

    • Biaya perawatan “taman kosmetik” yang dipastikan akan terus amblas karena dibangun di atas struktur air yang labil.

Demi “menghemat” biaya pengerukan, pemerintah kota justru menjerumuskan Batam ke dalam kerugian berkelanjutan yang nilainya berkali-kali lipat. Masalah baru akan terus mengintai Batam selama logika “menutup luka borok dengan rumput sintetis” ini terus dipertahankan.  Tindakan ini jelas-jelas mengkhianati cita-cita luhur para moyang pendiri Batam yang menginginkan kehidupan yang adil, tenang, aman, dan sejahtera—bukan mengubur nadi air demi pamer proyek instan.
.
TEKNOLOGI YANG DIABAIKAN — BUKAN FANTASI, TAPI DUNIA SUDAH PAKAI!
Babah Gonggong datang tidak hanya untuk melayangkan protes. Sebagai siput yang melek peradaban, aku membawa solusi teknologi yang sudah diadopsi dunia, namun tampaknya Pemko Batam terlalu gengsi untuk tahu:
Stabilisasi Tanah dengan Aspal (Asphalt Soil Stabilization)
Teknik mutakhir mencampur tanah lokal dengan emulsi aspal (foamed asphalt) untuk meningkatkan kekuatan tanah menjadi lapisan dasar jalan yang kokoh. Efeknya? Tidak perlu membuang biaya untuk mengangkut material baru; tanah yang ada di lokasi BISA LANGSUNG DIJADIKAN JALAN!
Cold Mix Asphalt / Cold In-Place Recycling (CIR)
Teknologi daur ulang perkerasan jalan langsung di tempat tanpa proses pemanasan. 100% material lama dieksploitasi kembali, sehingga mampu menekan kebutuhan material baru hingga 85%.
In-Situ Soil Recycling
Tanah di lokasi langsung dicampur dengan bahan pengikat mekanis di tempat, diaduk, lalu dipadatkan menjadi jalan. Sangat efisien, hemat anggaran, dan ramah lingkungan.
.
NEGARA YANG SUDAH SUKSES — KENAPA BATAM MALAH MALU?
Jika Pemko Batam merasa ragu atau malu, tengoklah bagaimana belahan dunia lain memperlakukan lingkungan mereka dengan cerdas:
    • Prancis: Menerapkan in-situ cold recycling pada jaringan jalan nasional mereka. Hasilnya, hemat biaya hingga 30–40% dan memangkas emisi CO₂ secara drastis.

    • Jerman: Memanfaatkan teknologi stabilisasi tanah aspal pada jalan-jalan negara. Infrastruktur mereka terkenal awet hingga puluhan tahun dan tahan beban super berat.

    • Australia: Mengaplikasikan soil stabilisation pada 60% jalan pedesaan mereka. Sukses menghemat biaya perawatan hingga 50%, bahkan pada karakteristik tanah yang paling sulit sekalipun.

    • Kenya: Menggunakan metode stabilisasi tanah lempung ekspansif untuk jalan provinsi. Nilai CBR (California Bearing Ratio) naik hingga 10 kali lipat, menciptakan akses jalan yang tangguh menghadapi banjir.

Saat seluruh dunia berlomba-lomba mendaur ulang material, mengapa Batam justru mengubur material berharga senilai miliaran rupiah di dasar sungai, lalu sibuk membeli aspal baru dari tempat yang jauh? Itu bukan pembangunan—itu adalah pemborosan yang dibungkus regulasi! 🤔
.
USULAN KONKRET DARI BABAH GONGGONG
1️⃣ Gali dan keruk kembali alur asli Sungai Baloi! Kembalikan lebar minimalnya menjadi 20 meter. Jika ingin membangun taman, buatlah di atas daratan yang sah, bukan di atas makam air.
2️⃣ Manfaatkan tanah hasil kerukan dan puing proyek tersebut untuk diolah menggunakan teknologi stabilisasi aspal menjadi material pembangunan jalan. Padukan dengan metode Cold Mix Asphalt untuk menambal jalan-jalan berlubang di pusat kota atau meninggikan area rawan banjir seperti Tembesi, Batam Centre bagian bawah, dan Jalan Laksamana. Satu material, tiga manfaat nyata!
3️⃣ Tinjau ulang keputusan SP3 kasus ini. Pemulihan lingkungan tidak boleh diartikan sebagai penguburan sungai secara permanen, karena itu adalah kejahatan ekologis.
4️⃣ Wajib melibatkan ahli lingkungan, masyarakat adat, dan sejarawan sebelum melakukan rekayasa lahan. Sungai ini bukan sekadar selokan pembuangan; ini adalah nadi kota, warisan leluhur, dan rumah bagi satwa purba yang usianya jauh lebih tua dari peradaban manusia di pulau ini.
.
PENUTUP — SUARA SIPUT PURBA
“Aku Babah Gonggong, saksi bisu yang telah melintasi linimasa jutaan tahun di perairan ini. Aku melihat bagaimana sungai ini mengalir tulus, memberi makan, membersihkan sisa kehidupan, dan menahan amukan banjir. Lalu manusia modern datang dan berkata: ‘Kita akan membangun kota metropolitan yang megah!’ Namun cara yang mereka pilih adalah dengan mencekik leher sungai, lalu tersenyum tanpa dosa sambil berkata, ‘Sudah kami ganti dengan taman.’ Taman memang terlihat indah di mata, tetapi rumput tidak bisa meminum luapan banjir, dan beton tidak memiliki pori-pori untuk bernapas.
Jika Prancis, Jerman, Australia, hingga Kenya mampu mendaur ulang tanah dengan bijak dan beradab, mengapa Batam justru memilih mengubur solusi di bawah timbunan ego sektoral? Keruk sungainya, gunakan tanahnya untuk membangun jalan—itulah logika pembangunan yang waras! Itulah yang dicita-citakan oleh para pendiri Batam: maju tanpa merusak alam, modern tanpa melupakan asal-usul, dan sejahtera tanpa merampas hak hidup air dan hewan.
Sebab, jika nadi airnya telah mati, kota ini tidak akan pernah benar-benar hidup.”
Demikian, lakukan sebelum terlambat dan menyesali seumur hidup.
Ikan hiu muter muter, see you later.
Terimakasih.
Babah Gonggong
Saksi Sejuta Tahun.
(Red-01/Foto.ist)

#sahabatKPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJournalism | #Fabjour I #RepublikFabeliano(Seluruh karakter hewan dalam tulisan  ini adalah personifikasi satire untuk ikutserta mengkampanyekan antikorupsi)

“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”

“Disaat manusia bingung dan takut bicara tentang antikorupsi maka hewan akan ambil alih!”

CATATAN REDAKSI :

Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Rabu, Tgl. 27  Agustus 2026  sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan (PT. QCI) –  yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf  ya atas segala ketidak-nyamanannya.

Ikan Hiu muter – muter, See U Later!

https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/

===================

============
Tentang Koran Jokowi 4440 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan