Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (26), AMERIKA SERIKAT BERULAH LAGI?

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (26),

AMERIKA SERIKAT BERULAH LAGI?

Koranjokowi.com, OPini :

Bila kita menelusuri perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang amat beragam suku, adat, agama dan perilakunya boleh dikatakan bahwa bangsa ini telah makan asam garam menghadapi berbagai intervensi dari luar negeri terutama yang dilakukan oleh negara adikuasa khususnya Negara Paman Sam Amerika Serikat.

Sejak Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia Intervensi bahkan subversi terhadap pemerintah Indonesia telah berkali-kali dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap eksistensi pemerintah yang sah Untuk diganti dengan pemerintah yang katakanlah Pro kepada Politik Amerika Serikat yang sudah barang tentu sifatnya menguntungkan Amerika Serikat terutama di bidang politik dan ekonomi.

Sejak dikeluarkannya Maklumat Wakil Presiden Nomor X tanggal 3 November 1945 maka Indonesia memulai era Demokrasi Parlementer yang bercorak Liberal di samping lahirnya berbagai partai-partai yang jumlahnya puluhan atas nama Demokrasi.

Pada era tersebut posisi politik Presiden Sukarno berada dalam keadaan terpaksa menelan buah simalakama yang tadinya bentuk pemerintahan adalah Presidensial berubah 180° menjadi Presiden sekedar lambang dari Pemerintahan Negara belaka. Para menteri tidak lagi diangkat oleh Presiden melainkan oleh formatur yang dipilih dari partai-partai yang jumlahnya banyak itu. Peran Amerika Serikat di belakang layar sangatlah besar terutama melalui jaringan-jaringan badan intelijenya CIA yang agen-agennya berkedok sebagai diplomat-diplomat di Kedubes Amerika Serikat.

Mereka-mereka inilah yang secara aktif mengadakan pendekatan-pendekatan, loby-loby politik dengan partai-partai yang bernuansa Islam seperti Masyumi juga partai yang memiliki pandangan sosialis kanan seperti PSI (Partai Sosialis Indonesia). Konspirasi ini berpuncak dengan adanya pemberontakan PRRI di Padang Sumatera Barat, Permesta di Manado Sulawesi disamping lahirnya Gerakan DI/TII Kartosuwiryo yang menghendaki adanya Negara Islam di Indonesia. Untuk melaksanakan niat tersebut terjadilah aksi terorisme antara lain peristiwa Cikini dimana Presiden Sukarno dilempari granat pada tanggal 30 November 1957. Tindakan terorisme tersebut terjadi juga ketika Presiden Sukarno sedang melakukan Shalat Idul Adha di kawasan Istana Merdeka ditembak oleh seorang teroris DI/TII dari jarak +6meter di belakang Presiden Sukarno namun berkat lindungan Allah SWT usaha pembunuhan tersebut gagal total.

Menjadi pertanyaan mengapa Presiden Sukarno yang selalu menjadi sasaran pembunuhan para teroris tersebut?, Hal tersebut karena sikap tegas dari Presiden Sukarno dalam menentang berdirinya negara agama di Indonesia khususnya negara Islam. Yang bersangkutan secara gigih dan tegas tetap mempertahankan negara kebangsaan dengan Pancasila sebagai Dasar Negaranya dan UUD 45 sebagai landasan hukumnya.

Presiden RI Sukarno, President Filipina Macapagal, dan Perdana Menteri Malaysia Tuanku Abdul Rahman menandatangani dokumen pembentukan Maphilindo di Manila, pada 5 Agustus 1963

Oleh sebab itu kekuatan negara adikuasa di bawah kepemimpinan Amerika Serikat sangatlah berkepentingan dengan hilangnya Presiden Sukarno dapat terlaksana melalui segala cara antara lain cara-cara terorisme dengan menggunakan tangan-tangan kelompok Islam ortodok, ekstrim kanan yang sejauh itu selalu dibina oleh agen-agen andalan CIA seperti Bill Palmer juga Kepala Biro CIA untuk Indonesia Hugh Tovar (Robinson, Geoffrey B, Musim Menjagal)

Subversi dan Intervensi Di Era Reformasi

Setelah Amerika Serikat dan konco-konconya berkonspirasi dengan beberapa petinggi-petinggi militer Indonesia berhasil mendongkel Presiden Sukarno dari kekuasaannya mereka sampai dengan saat ini masih tetap mengadakan hubungan erat dengan organisasi-organisasi, tokoh-tokoh maupun partai-partai Islam yang garis politiknya berseberangan dengan kebijaksanaan dan garis politik Presiden Joko Widodo yang garis politiknya identik dengan apa yang dilaksanakan oleh Presiden Sukarno yaitu intinya anti kepada kepentingan-kepentingan Amerika Serikat beserta konco-konconya dalam bentuk anti neo-kolonialisme yang menurut Presiden Soekarno neokolonialisme saat ini belum mati akan tetapi dalam keadaan sekarat (Not yet death but dying). Didalam era reformasi kekuatan-kekuatan tadi selalu berhubungan erat dengan kelompok-kelompok, organisasi-organisasi bahkan partai-partai yang bernuansa Islam ortodok, Islam ekstrim termasuk Islam Khilafah yang hingga saat inipun hal tersebut tetap berjalan bahkan lebih intensif dan terbuka.

Sebagai contoh ketika beberapa waktu yang lalu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Max Pompeo berkunjung ke Indonesia tiba-tiba saja yang bersangkutan berkunjung mendatangi markas besar FPI (Front Pembela Islam) di Jati Petamburan Jakarta dan pastinya paling tidak berdiskusi mengenai kebijaksanaan Presiden Joko Widodo saat itu yang merugikan kepentingan-kepentingan Amerika Serikat terutama di bidang ekonomi.

Adapun fenomena yang terjadi setelah kejadian tersebut diatas adalah meningkatnya tindakan-tindakan anti pemerintah berupa demonstrasi-demonstrasi, intimidasi-intimidasi pada kelompok-kelompok Nasrani dan seterusnya.

Penulis pernah menanyakan hal tersebut di atas kepada seorang pakar dunia intelijen kira-kira apa saja yang dibicarakan oleh Max Pompeo dengan petinggi-petinggi FPI. Sang pakar mengatakan tidak tertutup kemungkinan dibicarakan masalah dukungan politik yang lebih masif bahkan bantuan pendanaan (logistik). Memang setelah adanya kunjungan tadi sepak terjang FPI yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah menjadi lebih “beringas”.

Menarik dianalisis apa tujuan Dubes Amerika Serikat – Sung Yong Kim datang berkunjung ke DPP PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan bertemu dengan pimpinan-pimpinan terasnya. Adapun disaat partai-partai mulai mendeklarasikan capres dan cawapresnya. Jangan-jangan apa yang pernah terjadi di FPI beberapa waktu yang lalu terjadi juga pada kasus capres dan cawapres yang saat ini sedang marak terjadi yaitu Amerika Serikat memberikan dukungan politis bahkan kemungkinan juga logistik untuk memenangkan capres tertentu sebagai Presiden RI ke-8.

Walaupun kita kaum Patriotik Sukarnois berharap tidak demikian namun secara analitis hal tersebut dapat saja terjadi mengingat masalah menguasai Indonesia sejak dahulu sudah menjadi usaha dari Amerika Serikat CS apapun administrasi yang berkuasa di sana, apakah partai Republik ataupun Demokrat.

Ist

Dalam masalah Indonesia politik mereka selalu saja setali tiga uang alias “sami mawon”. Oleh sebab itu secara jujur dan tulus kita berpendirian tidak menghendaki Presiden yang akan datang siapapun figurnya adalah hasil rekayasa dari Amerika Serikat apalagi dijadikan bonekanya Amerika Serikat layaknya beberapa Presiden dari Afrika yang diperlakukan seperti kertas tisu yang bila sudah tidak digunakan dibuang ke tempat sampah (Soekarno; Wejangan revolusi)

Kita berharap seluruh capres dan cawapres dari partai apapun yang akan turun berlaga pada tahun 2024 yang akan datang keseluruhannya adalah Patriot-Patriot sejati yang mempunyai harga diri dan berjiwa Pancasila 1 Juni 1945 serta UUD asli revolusi 1945 sehingga mampu bila diperlukan mengatakan dengan dada membusung “Go to hell with your Intervention” karena masalah Asia harus diselesaikan oleh bangsa Asia dengan cara Asia (Doktrin Soekarno Macapagal).

Semoga harapan dari kaum Patriotik Sukarnois dapat terwujud di saat suhu politik akan panas dalam menghadapi pilpres dan pil cawapres yang akan datang.

Jakarta, 17 Maret 2023

Guntur Soekarno

Pemerhati Sosial/ Ketua Dewan Bidang Ideologi DPP PA GMNI

Jokowi2Periode?

Jokowi3Periode?

Lainnya,

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (24), ” MENGAPA BUNG KARNO BELUM PERNAH KE  INGGRIS RAYA? “

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (24), ” MENGAPA BUNG KARNO BELUM PERNAH KE  INGGRIS RAYA? “ Koranjokowi.com, Jakarta : Bung Karno dikenal sebagai kepala negara yang paling sering melakukan kunjungan ke luar negeri karena […]

Eyang Dalem Dipati Ukur, Dalam ‘Catatan Putih’ Relawan Jokowi-Ahok Jawa Barat.

Eyang Dalem Dipati Ukur, Dalam ‘Catatan Putih’ Relawan Jokowi-Ahok Jawa Barat. Koranjokowi.com, OPini : Sangat sedikit diantara kita tahu bahwa disaat  Sultan Agung – Raja Mataram menyerang VOC di Batavia thn.1628 lalu, salah satu ‘jenderal […]

EDITORIAL

” SUKARNO BUKAN PKI, INDONESIA PUN TERSENYUM “

” SUKARNO BUKAN PKI, INDONESIA PUN TERSENYUM “ Koranjokowi.com, Bandung : Mohammad Guntur Soekarnoputra, yang akrab dipanggil ‘ Mas Tok atau Om Gun ini  tgl. 3 November 2022 lalu genap berusia 78 tahun, beliau adalah […]

Melawan Lupa (142), ” FILM PORNO SEBAGAI BAGIAN STRATEGI PENGHINAAN & MENJATUHKAN SUKARNO DIMATA DUNIA ? “

Melawan Lupa (142), ” FILM PORNO SEBAGAI BAGIAN STRATEGI PENGHINAAN  & MENJATUHKAN SUKARNO DIMATA DUNIA ? “ Koranjokowi.com, Editorial : Ir. Sukarno demikian dibenci Amerika dan sekutunya, mereka takut Indonesia akan menjadi ‘macan dunia’ apalagi […]

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (25), BUKU ”CATATAN MERAH” GUNTUR SUKARNO PUTRA, REALITA DIBALIK KEHIDUPAN ISTANA  & PESAN BUNG KARNO “

Diary, Guntur Sukarnoputra 1944 – 2022 (25),  BUKU ”CATATAN MERAH” GUNTUR SUKARNO PUTRA, REALITA DIBALIK KEHIDUPAN ISTANA  & PESAN BUNG KARNO “ Koranjokowi.com, Who’s, Jakarta : Saat saya selaku Staf Khusus koranjokowi.com Prov.DKI Jakarta  mendapat […]

Tentang RedaksiKJ 3833 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan