#SahabatKPK!,
“Presiden Prabowo, Dengarkan Murka Katak Mandailing Kepada Pelaku PETI Di Kab.Madina !?”
PESAN PRESIDEN PRABOWO TENTANG PETI
“Tambang ilegal masih menjadi luka terbuka di Indonesia. Berdasarkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada 7 Oktober 2025, negara diperkirakan merugi hingga Rp300 Triliun akibat aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Data Kementerian ESDM mencatat lebih dari 2.740 titik PETI tersebar di seluruh negeri, termasuk di kawasan hutan seluas 300 ribu hektare”.
Kerugian ini bukan hanya soal angka. Di balik triliunan rupiah yang hilang, ada sungai yang keruh, hutan yang gundul, dan warga yang terancam penyakit akibat limbah merkuri dan logam berat. Di Kotanopan, Mandailing Natal, jejak kehancuran itu nyata adanya.
Sore menjelang magrib (28/7), kami diam membisu. Baru kali ini kami berani menembus rimba lebat di sekitar lereng Gunung Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Pertemuan yang semula dijadwalkan di kawasan Hutan Sopotinjak terpaksa dibatalkan karena satu dan lain hal, hingga akhirnya digeser ke titik ini.

Tidak lama kemudian, muncul sosok orang tua bertubuh tinggi, ditemani seekor harimau putih yang gagah. “Kalian yang dari Koranjokowi.com, #SahabatKPK!? Mana yang bernama Arief P. Suwendi, Ali Monang, dan mana Mawardi?” tanyanya dengan tatapan mata yang sangat tajam. Kami berdiri bergantian memperkenalkan diri.
“Arief dari Bandung, Ali dari Panyabungan dan Mawardi dari Lingga Bayu, kalian asli warga sini?”, mereka mengangguk. “Oh berarti kalian yang disebut ‘Nasution Bersaudara’ koranjokowi,ya?”, mereka mengangguk lagi. “Arief, ada acara apa kesini?”, saya diam,bingung.

“Oke, terima kasih kalian sudah hadir ke sini. Yang akan menemui kalian sebentar lagi adalah Ompung Kakek MANDA dan OMPUNG Nenek DAILING. Bagi seluruh hewan di wilayah ini, mereka berdua dihormati sebagai Katak Wayang Mandailing Generasi ke-XI leluhur penghuni rimba, yang sudah eksis sejak jutaan tahun lalu. Pemerintah baru mengakui sekitar Maret 2017 dengan istilah manusia menyebutnyaKatak Wayang Mandailing (Sigalegalephrynus mandailinguensis). Ingat, dibanding manusia yang ada di Kab.Madina , lebih awal mereka!. Manusia minta makan dari hewan pohon dan hewan yang ada dihutan, mereka sebaliknya tidak pernah merepotkan manusia. Ingat itu!”, kami mengangguk.

Sambil menunggu beliau datang silahkan catat,
Titik Episentrum (Kotanopan): Terletak di wilayah Mandailing Julu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Secara geografis, wilayah ini dibelah oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis yang kini menjadi sasaran empuk mesin-mesin dompeng dan alat berat PETI.
Benteng Hijau yang Terkoyak (TNBG): Sisi barat dan timur Kecamatan Kotanopan berbatasan langsung dengan zona penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dan lereng Gunung Kulabu. Wilayah inilah yang menjadi habitat mikro-endemik Katak Wayang Mandailing (Sigalegalephrynus mandailinguensis). Aktivitas PETI yang merambah ke perbukitan otomatis merusak hulu air dan memicu longsor karena struktur tanahnya berlempung dan berada di jalur patahan aktif Sumatra.
Misteri Gunung Sorik Marapi : Terbentuk sejak1 – 2 juta tahun lalu dengan luas > 72.000 hektar dan tinggi 2.145 mdpl maka wajar jika manusia menyebut sebagai salah satu puncak tertinggi di Bumi Gordang Sambilan (Mandailing Natal).

Tahun 1830karena ini masuk gunung merapi , pernah meletus yang pertama letusan freatik (semburan uap, abu, dan lumpur panas akibat kontak air dengan magma). Tahun 1892 meletus kembali dan menewaskan sekitar 180 warga lokal kala itu. Tahun 1987, memuntahkan abu vulkanik dan lahar panas yang alirannya mencapai Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Di puncak gunung ini ada Danau Aek Cunik yang berwarna kuning, hijau, dan kebiruan, terjepit diantara kawah aktif dan dalamnya hanya 1-2 meter dengan luas 2-2,5 hektar. Selain curam, sangat jarang manusia yang hingga puncak gunung, termasuk kepercayaan disana area sakral tempat bersemayamnya kekuatan gaib. Dan munculah istilah lokal “I Pajopi Jihin” yang berarti “disembunyikan jin”.
Sambil mengusap usap kepala Harimau putih, Orang tua itu melanjutkan,
“Oh ya , perkenalkan saya sendiri bernama Raja Hejo, sahabat karib beliau berdua. Asal saya dan si Bodas ini (menunjuk ke arah harimau putih) berasal dari hutan di Jawa Barat. Sebenulnya kami sedang melakukan studi banding di sini. Kalau memakai hitungan waktu manusia, kami baru dua minggu di sini, namun di dunia kami, perjalanan ini sudah memakan waktu 2.000 tahun.” Kami hanya bisa terdiam mendengar penjelasannya dengan rasa takjub yang luar biasa.

Tidak lama kemudian, kilatan petir menyambar diikuti gemuruh yang memecah kesunyian. Muncullah pasangan KATAK WAYANG MANDAILING tersebut dengan pakaian resmi layaknya kerajaan kuno.
“Terima kasih kalian telah memenuhi undangan kami. Salam hangat dari kami untuk seluruh jajaran redaksi koranjokowi.com. Tolong tayangkan semua hal yang akan kami sampaikan hari ini, lalu sebarkan kepada khalayak luas. Apalagi kami tahu viewers kalian sudah menembus lebih dari 471.000, baik di dalam maupun luar negeri,” bisik Ompung Nenek Dailing. Kami mengangguk takzim penuh hormat. Sementara itu, Ompung Kakek Manda hanya diam mematung layaknya batu, namun sorot matanya menghujam tajam ke arah kami.

Berikut adalah beberapa poin krusial yang sempat kami catat dari apa yang disampaikan oleh Ompung Nenek Dailing:
Kutukan Geologis Sabuk Magma: Secara ilmiah, wilayah Kotanopan dilewati oleh Lempeng Magmatik Sumatra (Sumatran Magmatic Arc). Ini merupakan sabuk gunung api purba bawah tanah yang sangat kaya akan sirkulasi hidrotermal. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini memicu terbentuknya endapan emas tipe epithermal (urat kuarsa emas) dan emas aluvial (butiran emas yang terkikis dan hanyut ke aliran sungai).
Keserakahan Para Cukong: Jika dikelola dengan benar, amanah, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat lokal, potensinya bisa melebihi 100 gram emas/hari. Sayangnya, komitmen itu selalu hanya berakhir di atas kertas. Banyak pemodal besar (cukong) yang justru datang dari luar daerah, nekat beroperasi secara ilegal tanpa memikirkan hari esok.
Pisau Bermata Dua: Data kekayaan emas Kotanopan ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, buminya sekaya surga, namun di sisi lain memicu tragedi ekologis yang mengerikan. Maraknya alat berat dan penggunaan zat kimia berbahaya seperti merkuri (air raksa) telah merusak lahan persawahan warga dan mencemari aliran Sungai Batang Gadis—tempat manusia dan hewan berbagi air untuk minum.

Tragedi yang Terlupakan: Mereka buta bahwa kondisi geologi tanah Kotanopan didominasi oleh batuan lapuk dan mineral lempung yang sangat rentan runtuh jika dikeruk membabi buta tanpa prosedur keamanan. Akibatnya, longsor tambang berulang kali terjadi dan terus memakan korban jiwa.
Seruan Perang Semesta Melawan PETI: Menjalankan aktivitas ilegal adalah bentuk perbuatan melawan hukum alam, hukum leluhur, sekaligus hukum manusia. Oleh karena itu, siapapun yang terlibat dalam lingkaran setan PETI wajib hukumnya untuk diperangi! Ini adalah tugas bersama; mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Gubernur Sumut, Polda Sumut, Pangdam I/Bukit Barisan, Bupati, LSM, Pers, Komunitas Lingkungan Hidup, hingga Komunitas Budaya.

Tiba-tiba, Ompung Kakek Manda berteriak dengan suara lantang yang menggema dahsyat, memantul di antara dinding perbukitan dan lebatnya hutan:
“Manusia yang terlibat PETI pasti bisa bersembunyi dari pandangan sesama manusia! Tapi ingat, kalian tidak akan pernah bisa bersembunyi dari mata Tuhan! Kalian telah merugikan banyak makhluk hidup dan mengangkangi hukum. Kalau semua pihak memilih diam, bersikap masa bodoh, atau justru ikut menikmati ‘kontribusi’ haram dari PETI ini, maka tunggulah saatnya kemarahan Tuhan tiba!”

Suaranya meninggi kembali, “Apakah kalian tidak belajar dari musibah di Desa Bandar Limabung pada tahun 2022 lalu yang merenggut nyawa 12 ibu-ibu tak berdosa? Atau tewasnya puluhan warga di Desa Tulabolo Timur, Gorontalo pada tahun 2024? Termasuk yang baru saja terjadi di Kotanopan pada Juli 2026 ini, di mana 9 orang tertimbun dan 2 di antaranya tewas mengenaskan! Model kemurkaan Tuhan yang seperti apa lagi yang kalian tunggu?!”
Setelah meluapkan amarahnya, Ompung Kakek Manda kembali terdiam. Deru napasnya memburu, menyiratkan kemarahan mendalam dari alam yang terluka. Si Bodas, harimau putih itu, ikut mengaum dengan sangat kencang, membuat koloni kelelawar berjatuhan dari langit-langit sarangnya karena ketakutan.

Ompung Nenek Dailing kemudian melangkah mendekati kami, memberikan pesan penutupnya:
“Sampaikan melalui koranjokowi.com, siapapun yang terlibat dan mendukung PETI di Kab.Madina, mereka sejatinya sedang mengundang bencana untuk datang ke rumahnya sendiri. Mereka telah merusak kesucian jiwanya. Mereka menghancurkan rumah kami di hutan Kotanopan dengan besi-besi raksasa demi memuaskan ketamakan yang tiada habisnya. Jangan pernah menyesal, jika suatu hari nanti alam sendiri yang akan bergerak mengubur mereka hidup-hidup di dalam lubang galian yang mereka ciptakan sendiri!”

“Pantun hangoluan, teas hamatean! Bahat disabur sabi, anso adong salongon.” Banyak yang ditanam, maka banyak pula hasil yang akan dipetik. Namun PETI adalah perbuatan yang dimurkai oleh Sang Pencipta. Siapa yang menanam kerusakan di perut bumi Kotanopan, atau di mana pun di atas tanah Madina ini, mereka pasti akan memanen bencana dan menggali liang kuburnya sendiri!
BERSAMBUNG
(Red-01/Foto.ist)
#koranjokowi.com#SahabatKPK!#kemensetneg#ksp#menteriESDM#mabespolri#kodam1/BB#GubsuBobby#poldasumut#bupatimadina#lawanpetimadina#


“When humans fear to speak against corruption, animals take over!”
“DISAAT MANUSIA BINGUNG DAN TAKUT BICARA TENTANG ANTIKORUPSI MAKA HEWAN AKAN AMBIL ALIH!”

CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Rabu, Tgl. 29 Juli 2026 sejak hari Sabtu, tgl. 2 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
Ikan Hiu muter – muter, See U Later!



https://www.instagram.com/squad_sahabatkpk/

https://www.facebook.com/share/1BNfWnKGiJ/


===============
Ali Monang, Mawardi. #SahabatKPK!,”IBADAH MELALUI PENA RELAWAN!”
Ali Monang, Mawardi. #SahabatKPK!, “IBADAH MELALUI PENA RELAWAN!” Kab.Mandailing Natal (Madina) Prov. Sumatera Utara. Dalam tradisi Islam, terdapat hadis sahih riwayat Imam Muslim yang menyebutkan bahwa ketika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga […]
Ali Monang & Mawardi,#SahabatKPK!,”Bro Lubud Lutung Remaja Kab.Madina Go Nasional”
Ali Monang & Mawardi,#SahabatKPK!, “Bro Lubud Lutung Remaja Kab.Madina Go Nasional” Menjawab jeritan hati masyarakat di Bumi Tapanuli bagian selatan, akhirnya komunitas hewan liar & dilindungi seKab.Mandailing Natal (Madina), Sumatera utara ‘unjuk gigi’, dengan […]
Be the first to comment