Perkenalkan, namanya Laptop usang Hewlett-Packard (HP) OmniBook Series, kelahiran tahun 1998–2000. Pemiliknya era sebelum thn.2012b bernama Hermanus, seorang pegawai perusahaan swasta di bidang ekspor-impor di Jakarta Utara. Sesudah tahun 2012, karena banyak hal, dia pun tidak lagi dipergunakan sehingga kemudian menjadi barang tidak berguna di dalam sebuah gudang tua. Saya diminta PimRed untuk melalukan ‘pencarian dan investigasi’ sebagaimana dilaporkan ALIANSI PRODUK DIGITAL MERAH PUTIH (APD-MP) . Bahwa ada seorang rekan mereka yang mau bertemu dengan saya sebagai relawan #SahabatKPK! di Jakarta Utara, oh ya nama saya Rigel Belatrix. PimRed pun memberikan shareloc dimana dia berada selama ini. Singkat ceritera saya ditemani ‘Bruno, Buldog hadiah dari PimRed thn.2024 lalu berhasil menemukannya dipojok gudang tua kawasan Jakarta Utara.
Tubuhnya masih hangat, bahkan layarnya masih aktif menyala kalau pun mulai sendu. Saya menjabat tangannya, wajahnya sontak sumringah. “Terima kasih abang telah datang, mungkin ini akhir usia saya. Melalui abang saya ingin melakukan ‘pengakuan dosa, dan janji bang tolong sebarkan ini melalui Koranjokowi.com. Agar mati saya damai”, bisiknya, saya mendekat dan mengangguk.
Berikut pengakuannya:
1.Sepanjang saya di dalam gudang tua ini, saya hanya mampu menangis dan berdoa. Memohon ampun kepada Tuhan karena selama saya dipergunakan oleh pemilik, banyak kejahatan yang saya kerjakan.
2.Saya ikut serta mengubah harga barang untuk mengejar keuntungan sekeinginan pemilik dan boss tempatnya bekerja.
3.Keuntungan dari cara itu pasti menjadikan pemilik dan bos mendapat keuntungan dan harta melimpah. Namun, saya tidak mampu berbuat apa-apa karena saya adalah ‘benda mati yang tidak bisa menolak atau bertentangan dengan keinginan pemilik dan bosnya.
4.Untungnya, saya bukan dilahirkan sebagai manusia yang punya istri, anak, cucu, mertua, dan sebagainya. Sehingga dosa-dosa yang dilakukan dan uang yang didapat tidak menjadi darah dan air dalam tubuh mereka.
“Saya hanya benda mati, juga kalkulator sebelah saya, Bang!”, Wajahnya memelas, ada air mata di antara layar laptop. Dia menangis. Saya memahami derita laptop ini. Bisa kita bayangkan jika dia ada di dalam gudang ini sejak dibuang, berarti sudah 14 tahun batinnya terganggu, merasa dosa-dosa itu menghantui hidupnya.
“Entah sudah berapa puluh juta doa kepada Tuhan selama ini saya panjatkan. Apakah Tuhan memaafkan saya, Bang?” tanya dia, sontak menghujam jantung saya. Saya menatapnya tajam, mata yang terlihat tua itu semakin basah.
“Bang, saya Kristiani. Dalam keyakinan saya, Tuhan Yesus adalah sosok Maha Pemaaf dan Pengasih. Kasih-Nya dibuktikan dengan kerelaan berkorban di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Ia juga mengajarkan pengampunan tanpa batas, bahkan mendoakan mereka yang menyakiti-Nya saat disalib.
Saya yakini itu, Bang,” jawab saya sambil meratapi nasibnya. Saya pun memberikan tisu untuk mengusap air matanya yang jatuh ke keyboard.
“Saya bukan manusia, Bang, saya benda rongsokan. Namun saya dikejar dosa-dosa dan kesalahan masa lalu, walau pun bukan saya yang melakukannya sendiri. Saya tidak mau disatukan dengan para korupto KPK yang nanti akan masuk neraka. Saya takut masuk neraka, Bang,” dia kemudian memeluk kaki saya erat.
“Bang, dalam keyakinan saya, saat disalibkan, Yesus mengucapkan doa pengampunan yang terkenal: ‘Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,’ sebagaimana disampaikan dalam Lukas 23:34,” jawab saya dengan bibir bergetar berusaha menenangkannya.
“Apakah Tuhan Yesus juga mau memaafkan saya, Bang?” tanyanya lirih, matanya setengah terpejam.
“Amin,” jawab saya.
“Amin,” jawabnya. Kemudian tubuh yang tadi hangat perlahan menjadi dingin. Dia meninggal dalam damai.
Saya termenung, lalu memasukkannya ke dalam ransel untuk dikebumikan di dekat rumah. Saya pun keluar dari gudang tua itu dengan hati yang lapang.
Saya ingat apa yang dikatakan pendeta, bahwa Alkitab banyak sekali mengajarkan hidup jujur mendatangkan berkat, ketenangan, dan kehormatan di hadapan Tuhan maupun sesama. Sebagaimana Amsal 10:9: “Siapa bersih jalannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan ketahuan.” (Hidup jujur memberikan rasa aman dan damai tanpa ketakutan). Dan saya berharap tulisan ‘imagining of journalism’ ini akan diterima oleh PimRed. Amin.
(Red-01/Foto: Ist)
============
CATATAN REDAKSI :
Pada kesempatan ini pula. kami, atasnama manajemen dan redaksi Koranprabowo.id , mohon maaf karena sampai saat ini, Selasa, Tgl.23 Juni 2026 sejak hari Jumat, tgl. 1 Mei 2026 web Koranprabowo.id ‘tidak bisa di-akses’ karena kelalaian perusahaan penyelenggara layanan PT. QCI – yang juga telah diakuinya tgl. 6 Mei 2026 lalu. Maka untuk sementara seluruh informasi teman teman relawan akan kami migrasi/tayangkan disini , di Koranjokowi.com. Somasi sudah 2 kali diabaikan, kita pun telah minta 9 instansi negara ‘ikut perduli akan kasus ini (KSP, Setneg RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK) , tenang saja teman – teman. Mohon hindari isu tentang dugaan ada kesengajaan ‘pembunuhan’ terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau dugaan ‘Konspirasi politik. Nyantai aja teman..Semua akan indah pada waktunya. Dan mohon maaf ya atas segala ketidak-nyamanannya.
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.
Be the first to comment