Wawancara Imajiner (4), “DIANTARA CANDU, RERE & CEGAH KORUPSI”

Wawancara Imajiner (4),

“DIANTARA CANDU, RERE & CEGAH KORUPSI”

Koranjokowi, OPINi :

Menulis adalah ‘Passion (Gairah) bahkan ibarat candu, namun bukan candu turunan narkotika yang berasal dari getah buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) atau kemudian banyak menyebutnya dengan ‘poppy.

Dulu, Candu kerap digunakan untuk mengurangi rasa nyeri serta menimbulkan rasa kantuk. Orang yang mengonsumsi getah ini kerap ketagihan. Perlahan, kata Candu pun mengalami perluasan makna yakni dari kata Candu menjadi ‘Kecanduan. Orang yang kecanduan diartikan sebagai orang yang ketagihan. Ahahaha.

Saya adalah salah satu dari mungkin ratusan juta orang yang kemampuan menulisnya dibawah rata – rata namun candu menulis tidak dapat dibendung , dapat dimana saja kalau pun hanya satu paragraf. Dan saya tidak pernah merasa minder  atas kekurangan itu maka saya memilih jalur ‘non-mainstream hingga saat ini. Gaya bebas, menulis bebas, sesuka hati. Namun tetap berpijak kepada UUD 1945 Pasal 28 tentang kebebasan menyampaikan pendapat dan UU ITE thn.2008.

Rubrik “Wawancara Imajiner” adalah salah-satunya, entah sudah berapa puluh edisi mungkin ratusan yang telah tayang sejak mengenal media cetak sekitar tahun 1980-an menyusul kemudian era-media online seperti Koranjokowi.com ini, dsb. Saya memang pecandu, sulit menghilangkan ini, agh sudahlah.

Bravo Non-mainstream !

Tiada terasa Gojek R2 telah tiba di Halaman Istana Bogor Jawa barat,  tubuh sedikit basah  karena gerimis sejak stasiun kota Bogor tanpa bisa ditolak. “Ganti bajunya mas”, demikian seorang ajudan Istana sambil memberikan pakaian ganti. Saya mengangguk , dahi pun tetap berkerut karena ajudan  cantik ini berpakaian ala penari Reog Ponorogo diluar dari kebiasaan protokoler dan atribut Istana Bogor.

Penari Reog Ponorogo | Penari, Wanita, Foto gadis cantik

“Lumayan, tidak besar, tidak kekecilan. Kok nggak sekalian dengan celananya, mba?”, bisik saya kepada ajudan itu, matanya melotot , serem tapi cantik. Saya kemudian diminta duduk dikursi tamu yang menghadap kesisi selatan istana. Hujan masih turun gerimis namun para  rusa rusa istana menikmatinya dengan bergerombol. “Rusa rusa itu awalnya  dibawa oleh Gubernur VOC – Sir Thomas Stamford Raffles dari daerah perbatasan India dan Nepal pada tahun 1814. Kemudian sejak 1950-an dikembang biakan oleh Paduka Yang mulia (Red: Bung Karno), mas”, bisik ajudan itu yang kemudian saya tahu namanya ‘Rere, Serda Anissa Rere – Srikandi TNI AL lulusan thn.2020 lalu

Maharani-penari-jathil-2.jpg

Masih kata Rere sambil mengajak keliling halaman , Rusa  totol – totol  itu adalah jenis axis-axis yang kemudian menghiasi Istana dan menjadi hiburan murah meriah bagi masyarakat. ” Kalau pun rusa – rusa itu cantik, namun mereka memiliki naluri pertahanan yang mampu mendeteksi kehadiran makhluk asing yang bukan kawanannya. Oleh karena itu, hewan ini sulit untuk didekati oleh manusia sehingga pengunjung hanya dapat melihatnya dari pagar luar Istana Bogor”,  celoteh Rere  tanpa saya tahu apa maksudnya . Bahkan saya meyakini jangan – jangan Rere ini termasuk golongan rusa totol – totol itu, ahahaha.

Asal Mula Rusa di Istana Bogor yang Sudah Ada sejak 1814

Gerimis semakin deras, kami pun bergegas masuk, wajah Rere tampak  basah karena gerimis ,  ingin rasanya mengelap dengan tisue dimeja, namun matanya melotot tajam sambil memegang pistol kecil yang tersembunyi dipinggangnya. Saya menelan ludah , galak beud. Ehehehe.

Dari kejauhan saya melihat Paduka Yang Mulia, Ir.H. Sukarno bersama Ibu Fatmawati  tengah berpose bersama Pengurus Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI) ,  organisasi perempuan pejuang nasional yang lahir sekitar 16 Desember 1945  gabungan 2 organisasi besar, Wani – Wanita Indonesia & Perwani – Persatuan Wanita Indonesia.

Tidak lama Paduka memanggil saya menuju ruang tamu yang didalam,  Ibu Fat tidak ikut karena mereka menuju ruang perpustakaan. Rere meminta saya agar duduk tenang,  Tidak lama Paduka datang dengan senyum gigi ginsul seksinya, “Kamu godain Rere ya?”, tanya Paduka sambil melotot lucu. Saya menggeleng, “Belum Paduka, Takut,  Rere punya pistol”, jawab saya sambil melirik Rere yang berdiri tegap.

Ahahahahah…

Paduka tertawa lepas, kemudian beliau menyampaikan salam untuk seluruh anggota Koranjokowi.com , agar tetap berjuang membela kebenaran dalam hal apapun. “Kita sudah janji ya jika interview ini tidak lebih dari 15 menit”, tanya beliau. “Siap, Paduka”. Beliau mengatakan hari ini jadwal memang padat karena sebentar lagi akan bertemu  Mr. Raden Mas Sartono. Sahabat dekat beliau yang berprofesi sebagai Advokat/pengacara terkenal dijamannya.

undefined

“Siapa beliau Paduka?”

” Namanya Raden Mas Sartono, putra bangsa yang mumpui dan aku bisa percaya termasuk sebagai  Menteri Negara di Kabinet  yang berasal dari Partai Nasional Indonesia, Sartono mulai berjuang untuk kemerdekaan sejak usia 16 tahun, menjelang Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, ia termasuk yang memberi sponsor terlaksana Kongres II bersama temannya Mr. Soenario. Selama 29 tahun ia mengabdikan dirinya tanpa henti untuk mencapai cita-cita Indonesia merdeka”, papar Paduka kemudian meminta Rere menuangkan Teh panas pahit kesukaan beliau + Singkong rebusnya.

Masih kata beliau, Sartono pada 20 Desember 1957 di hadapan sidang pleno DPR  mengucapkan sumpah jabatan sebagai Pejabat Presiden. Sartono adalah orang pertama yang menduduki jabatan Presiden Republik Indonesia karena dipilih melalui mekanisme pemilihan umum. Sartono menjadi Pejabat Presiden berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1957 Pasal 2 yang menegaskan bahwa yang ditunjuk untuk menjalankan pekerjaan dalam situasi Presiden mangkat atau berhalangan adalah Ketua Parlemen, dengan ketentuan sampai ditunjuk Presiden yang baru.

Dengan jabatannya itu ia tetap sederhana bahkan dalam dokumen negara apapun ia selalu menuliskan namanya hanya dengan Sartono, tanpa gelar apa pun. Dalam situasi politik yang memanas, dia mengesahkan UU No. 8 Tahun 1958 tentang perubahan nama Provinsi Sunda Kecil menjadi Nusa Tenggara

Beliau juga kemudian berceritera jika dia memang menggagas ide dibentuknya  Badan Pemberantasan Korupsi, namun ternyata banyak mendapat tentangan dari banyak pihak melalui UU Keadaan Bahaya dengan produknya yang diberi nama Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara). Badan ini dipimpin oleh AH Nasution dan dibantu oleh 2 orang anggota yakni Prof M Yamin dan Roeslan Abdulgani.

Salah satu tugas Paran saat itu adalah agar para pejabat pemerintah diharuskan mengisi formulir yang disediakan — istilah sekarang mungkin daftar kekayaan pejabat negara. Dalam perkembangannya kemudian ternyata kewajiban pengisian formulir tersebut mendapat reaksi keras dari para pejabat. Mereka berdalih agar formulir itu tidak diserahkan kepada Paran akan tetapi langsung kepada presiden.

Usaha Paran akhirnya mengalami deadlock karena kebanyakan pejabat berlindung di balik Presiden. Di sisi lain, karena pergolakan di daerah-daerah sedang memanas sehingga tugas Paran akhirnya diserahkan kembali pemerintah (Kabinet Juanda).

Tahun 1963 melalui Keputusan Presiden No 275 Tahun 1963, upaya pemberantasan korupsi kembali digalakkan. AH,Nasution yang saat itu menjabat sebagai Menkohankam/Kasab ditunjuk kembali sebagai ketua dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo. Tugas mereka lebih berat, yaitu meneruskan kasus-kasus korupsi ke meja pengadilan.

Padahal bukan kandidat, tangan dingin AH Nasution antarkan ...

Lembaga ini di kemudian hari dikenal dengan istilah Operasi Budhi di mana sasarannya adalah perusahaan-perusahaan negara serta lembaga-lembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktik korupsi dan kolusi. Operasi Budhi ternyata juga mengalami hambatan. Misalnya, untuk menghindari pemeriksaan, Dirut Pertamina mengajukan permohonan kepada Presiden untuk menjalankan tugas ke luar negeri, sementara direksi yang lain menolak diperiksa dengan dalih belum mendapat izin dari atasan.

Dalam kurun waktu 3 bulan sejak Operasi Budhi dijalankan, keuangan negara dapat diselamatkan sebanyak kurang lebih Rp 11 miliar, suatu jumlah yang cukup banyak untuk ukuran pada saat itu. Karena dianggap mengganggu prestise Presiden, akhirnya Operasi Budhi dihentikan. Menurut Soebandrio dalam pertemuan di Bogor, prestise Presiden harus ditegakkan di atas semua kepentingan yang lain.

Selang beberapa hari kemudian, Soebandrio mengumumkan pembubaran Paran/Operasi Budhi yang kemudian diganti namanya menjadi Kotrar (Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi) di mana Presiden Sukarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Sejarah kemudian mencatat pemberantasan korupsi pada masa itu akhirnya mengalami stagnasi.

-BERSAMBUNG-

(Red-01/Foto.ist)

Lainnya

(Silahkan klik tautan ini)

Gambar Tanda Panah Melengkung - (546x596) Png Clipart Download

@koranjokowi.com

Link Tiktok dibawah ini sudah dimakan ‘hantu’ sejak tgl.19 Maret 2024 lalu, ngeri ya.

@koranjokowi

“DUET ALWANMI & ALUMNI ST.YOSEPH VINCENTIUS BEBASKAN GUNATA & WAHAB HALIM”

DAERAH/DESA

PASCA TSUNAMI 1994 BANYUWANGI JAWA TIMUR, ‘ADA YANG TERSISA CERITERA DISANA !” – (4); “ APAKAH GUNUNG TUMPANGPITU TERMASUK ‘PENGHALANG TSUNAMI (TSUNAMI BARRIER) PANTAI SELATAN BANYUWANGI ?”

PASCA TSUNAMI 1994 BANYUWANGI JAWA TIMUR, ‘ADA YANG TERSISA CERITERA DISANA !” – (4); “ APAKAH GUNUNG TUMPANGPITU TERMASUK ‘PENGHALANG TSUNAMI (TSUNAMI BARRIER) PANTAI SELATAN BANYUWANGI ?” … WAWANCARA IMAJINER DENGAN EYANG GANDARAGA, JENDERAL PERANG […]

DAERAH/DESA

BERTEMU PRESIDEN JOKOWI DI ISTANA BOGOR & KASUS LAHAN EKS.PTPN-II SUMATERA UTARA YANG TIADA AKHIR !? – (2) : “JENDERAL MOELDOKO & KAPOLRI AKAN TURUN KE SUMUT SEGERA TERMASUK ‘MENGGIGIT’ PARA  PREMAN PEMBAKAR MERAH PUTIH !”

BERTEMU PRESIDEN JOKOWI DI ISTANA BOGOR & KASUS LAHAN EKS.PTPN-II SUMATERA UTARA YANG TIADA AKHIR !? – (2) : “JENDERAL MOELDOKO & KAPOLRI AKAN TURUN KE SUMUT SEGERA TERMASUK ‘MENGGIGIT’ PARA  PREMAN PEMBAKAR MERAH PUTIH […]

FOTO BICARA INDONESIA

KORAN JOKOWI.COM KANGEN BUNG KARNO DAN ALI SADIKIN  – (2): (CERITERA 3 LAKI – LAKI INDONESIA: ALI SADIKIN, KH. BUYA HAMKA & KH.M.NATSIR. WAITRESS CANTIK HINGGA BANJIR BANDANG JALAN PASTEUR BANDUNG)

KORAN JOKOWI.COM KANGEN BUNG KARNO DAN ALI SADIKIN  – (2): (CERITERA 3 LAKI – LAKI INDONESIA: ALI SADIKIN, KH. BUYA HAMKA & KH.M.NATSIR. WAITRESS CANTIK HINGGA BANJIR BANDANG JALAN PASTEUR BANDUNG) KoranJokowi.com, Bandung : IMAJINER, […]

Tentang RedaksiKJ 3837 Articles
MEDIA INDEPENDEN RELAWAN JOKOWI : *Alumni Kongres Relawan Jokowi 2013 (AkarJokowi2013), *Aliansi Wartawan Non-mainstream Indonesia (Alwanmi) & Para Relawan Jokowi Garis Lurus lainnya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan